18
Sep
2026

Ucapan Yang Baik Tetapi Dengan Niat Yang Tidak Baik Akan Dibongkarkan Oleh Allah

Ucapan Yang Baik Tetapi Dengan Niat Yang Tidak Baik Akan Dibongkarkan Oleh Allah

قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ يَنزَوِي فِيهِ الْخَيْرُ، فَيُلْقِيهِ اللَّهُ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ، حَتَّى يَقُولُوا: مَا أَرَادَ بِكَلَامِهِ هَذَا إِلا الْخَيْرَ. وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلَامِ الْخَيْرِ، لَا يَنْوِي فِيهِ الْخَيْرَ، فَيُلْقِيهِ اللَّهُ فِي قُلُوبِ النَّاسِ، حَتَّى يَقُولُوا: مَا أَرَادَ بِكَلَامِهِ هَذَا الْخَيْرَ.

Kata Ibrahim an-Nakha’i رحمه الله, “Sungguh, seseorang mengucapkan sebuah perkataan yang di dalamnya terkandung niat kebaikan, maka Allah akan menanamkan (kesan baik) itu ke dalam hati hamba-hambaNya, hingga mereka berkata, “Tidaklah dia menginginkan dengan perkataannya ini melainkan kebaikan”. Dan sungguh, seseorang mengucapkan sebuah perkataan yang tampaknya baik, namun ia tidak berniat kebaikan di dalamnya, maka Allah menanamkan (kesan itu) ke dalam hati manusia, hingga mereka berkata, “Dia tidak menginginkan kebaikan dengan perkataannya ini”.” (Raudhatul Uqola)

Dan ini -subhanaAllah- Allah yang mengatur semuanya. Orang kalau berbicara sesuatu, seperti dia bicara tentang sesuatu tema yang ingin dia sampaikan. Dan dari awal dia memang niatkan untuk kebaikan, tidak ada yang lain. Allah Maha Tahu apa yang ada di dalam hatinya. Allah Maha Tahu keikhlasannya. Allah Maha Tahu dia hanya inginkan kebaikan, tidak yang lain. Sehingga dia bicarakan ini dan itu, dia sampaikan kepada yang lain.

Atau semakna dengan itu walaupun dia tidak berucap, iaitu dengan tulisan, dia menulis ini dan itu. Seperti tulisan di status WhatsApp, dia tidak berbicara di situ, tetapi dia kongsikan tulisan di status atau di profilenya. Dan sekali lagi dari awal niatnya baik, bukan untuk tujuan permusuhan, kebencian, memecah belah atau perseteruan dengan yang lain. Allah Maha Tahu dia inginkan kebaikan.

Maka Allah jadikan hati manusia yang mendengarkan ucapan itu tahu bahawa orang ini menginginkan kebaikan. Dan semua hati manusia itu berada di dalam kekuasaan Allah, ianya di antara dua jari-jemari Allah. Allah mampu membolak-balikkannya, Allah yang berkuasa terhadapnya dan Allah yang mengaturnya.

Allah jadikan hati manusia semua akan tahu dan mengatakan orang ini dengan perkataannya atau dengan tulisannya atau dengan statusnya atau dengan profilenya ini, demi Allah tidak lain dia inginkan kecuali kebaikan. Kelihatan orang ini menginginkan kebaikan. Semua orang akan faham akan perkara tersebut. Seperti yang sering orang katakan, penyampaiannya langsung terhubungkan dengan hati yang mendengarkannya. Seperti mereka katakan, “MasyaAllah fulan itu, jazahullahu khair, bagus sekali penyampaiannya” atau “MasyaAllah jazahullahu khair fulan itu, dia sangat menginginkan kebaikan buat kita, ini nasihat yang betul buat kita”.

Sebaliknya orang yang ketika berbicara dengan satu pembicaraan, mungkin sekilas yang dia ucapkan atau yang dia tuliskan itu tampak baik, tetapi niatnya bukan untuk kebaikan, maka akan Allah jadikan hati manusia itu tahu bahawa orang ini tidak menginginkan kebaikan.

Jika sejak dari awal kalimatnya adalah kalimat yang tidak baik seperti mengumpat, ucapan kotor, maka yang seperti ini mudah untuk orang faham dan menolaknya. Tetapi ini masalahnya terkesan baik dan ucapan itu ucapan yang baik. Seperti dia copy paste perkataan orang lain kemudian dia letak di statusnya atau di profilenya dan dia tidak menginginkan kebaikan darinya.

Siapa yang tahu ini semua? Hanya Allah. Memang dari awal dia tidak menginginkan kebaikan, dia hanya menginginkan keburukan. Seperti dia ingin mengorek-ngorek sesuatu berita atau ibaratnya dia ingin menjadikan keruh akan sesuatu yang sudah jernih keadaannya. Allah yang Maha Tahu itu semua, apa maksudnya, tujuannya dan niatnya. Sesuatu yang tersembunyi di dalam qalbunya.

Ucapan yang tampak baik, tetapi niatnya bukan untuk kebaikan, intinya di sini. Dia ingin kekeruhan itu terjadi, dia ingin perpecahan, dia senang perselisihan, dia berharap itu terjadi perseteruan, dia bicara ini, ke sana ke mari, walhasil itu niatnya, bukan kebaikan.

Maka kembali lagi, hati manusia itu dikuasai Allah, Allah jadikan hati orang yang mendengarkan itu akan berkata, “Fulan tidak menginginkan kebaikan dengan ucapan ini”. Padahal ucapan yang dia ucapkan itu adalah kebaikan. Tetapi orang tahu dan Allah yang atur. Orang akan ingkarinya dan orang akan ragu serta mempermasalahkannya. Mungkin orang akan mengatakan, “Ucapan apa ini??” atau “Apa orang ini, apa mahunya membawa ucapan ini ke sini??” atau “Mengapa di situasi seperti ini, dia menukilkan ucapan ini??”.

Misalnya ada situasi atau kejadian tertentu, dia manfaatkannya, kerana dari awal dia tidak menginginkan kebaikan, kerana ada kerosakan atau cacat dalam qalbunya yang tidak pernah dia usaha untuk perbaiki, lalu Allah tampakkan itu kepada manusia. Maka jangan kamu kira Allah itu lalai. Seperti yang sering dikatakan oleh banyak orang, “Allah itu tidak pernah tidur, Allah Maha Tahu”. Kita semua mungkin awalnya tidak tahu menahu, tidak mengerti hati orang, bagaimana niatnya, apa yang dia maksud. Tetapi Allah yang menggerakkan hati orang kerana hati orang itu Allah yang kuasai. Kita sendiri tidak menguasai hati kita sendiri, semuanya dalam kekuasaan Allah. Maka hati-hatilah.

Begitulah maknanya yang kita fahami dari perkataan Ibrahim an-Nakha’i itu. Kalau kamu inginkan kebaikan, pasti itu akan ditangkap oleh orang. Sebaliknya kalau kamu tidak menginginkan kebaikan, itu pula yang akan ditangkap orang. Sudah berapa banyak kejadian yang seperti ini terjadi. SubhanaAllah, media-media yang ada, yang semestinya itu jadi sarana kepada ke arah kebaikan, untuk silaturahim, untuk berkongsi faedah, malah berubah menjadi bala. Dia masukkan perkataan orang ini dan itu yang akhirnya membuat gaduh banyak orang. Allahul musta’an. Itu semua kerana sejak dari awal mereka tidak menginginkan kebaikan.

Makanya banyak orang mengatakan, “Kalau sesuatu itu keluar dari hati murni yang menginginkan kebaikan, pasti itu akan masuk ke hati orang juga”. Maksudnya ianya terhubungkan dan tersambungkan ke orang lain. Sebaliknya kalau memang dari awalnya sudah bukan kebaikan niatnya, ianya tidak akan terhubungkan ke orang. Yang ada hanyalah kegaduhan dan bikin kacau.

Nanti dia sendiri yang akan menuai hasilnya. Orang akan bicara dan komentar tentang dirinya, begini dan begitu. Mungkin juga dia akan sampai disikapi (diambil tindakan) oleh orang lain, yang itu akan membuat dirinya marah. Bukankah itu ulah dari tanganmu sendiri, mengapa sekarang kamu keluhkan? Apa yang kamu mahukan dari awal? Allah Maha Tahu.

Makanya, al-Imam Ibrahim an-Nakha’i رحمه الله ingatkan hal itu. Walaupun itu ucapan baik, walaupun itu perkataan baik, walaupun itu tulisan baik, tetapi kamu tidak menginginkan kebaikan dengan itu, ada sesuatu yang kamu mahukan, terkadang dia manfaatkan untuk kepentingan peribadinya, untuk dendam hatinya kepada fulan atau yang lain dan untuk kepuasan nafsunya. Itu semua akan dapat orang menghidu dan membaca.

Oleh itu jangan kamu tertipu dengan ucapan kononnya, “Apa yang saya kongsikan itu kan ucapan yang baik” atau “Yang saya ucapkan itu kan kebaikan” atau “Yang saya tulis itu masyaAllah tulisan yang baik”. Intinya bukan itu permasalahannya, tetapi apa niatmu? Apa yang kamu mahu? Apa maqashid (tujuan) yang terselubung di lubuk hati kamu?

Perlu kita fahami juga bahawa masyayikh dan ulama kita ketika mereka ingin membantah, walaupun bantahan itu tentunya dengan ilmiah dan penuh hikmah, terkadang mereka masih menahannya. Ini kerana mereka masih menghitung seperti apa kemaslahatannya atau tidaknya. Atau terkadang mereka meminta kepada yang lain untuk berbicara dengan mengatakan, “Wahai fulan, kamu saja yang membantahnya” atau “Kamu saja yang berbicara” atau “Kamu saja yang menulisnya”. Ini semua agar tidak terkesan hanya dirinya saja yang selalu berbicara. Dikhawatirkan orang akan mengatakan, “Orang ini mencari panggung untuk tampil ke depan” atau “Orang ini sedang mencari nama” atau “Orang ini suka memanfaatkan semua orang yang dia bantahi dan menganggap semua orang salah”.

Itu semua dalam keadaan yang disampaikan itu adalah hak, benar dan niat mereka pun kita husnudzon (bersangka baik) tentunya demi kebaikan dan untuk kemaslahatan dakwah. Ini adalah ibrah (pelajaran) berharga bagi kita.

Orang yang berakal akan selalu menghitung niatnya, memperbaiki niatnya sebelum dia berbicara dan menulis sesuatu. Dan tanda orang yang tidak berakal adalah apa saja yang dia mahukan dan inginkan, akan dia bicarakan. Bila saja dia mahu bicara, dia akan sampaikan. Bila saja dia ingin menulis sesuatu, dia akan tuliskan. Itu semua tanpa dia menghitung dan mempertimbangkan maslahatnya atau tidaknya. Tanpa juga dia membenahi niat di dalam hatinya untuk apa semua itu dia lakukan. Wallahul musta’an.

✍ Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله

ll مجموعة طريق السلف ll
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
http://instagram.com/majmuahthoriqussalaf
http://m.youtube.com/@MajmuahThoriqusSalaf
https://www.tiktok.com/@majmuah.thoriqussalaf