Perbuatan Maksiat Setelah Mendapatkan Kenikmatan Itu Lebih Buruk
Perbuatan Maksiat Setelah Mendapatkan Kenikmatan Itu Lebih Buruk
• Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata, “Maksiat setelah kenikmatan lebih buruk dari kemaksiatan sebelum kenikmatan, kerana Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَعَصَيۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَآ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَۚ
“Dan kalian bermaksiat sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kamu sukai.” (Ali-Imran: 152)
Iaitu tentang kemaksiatan mereka menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ setelah Allah سبحانه وتعالى berikan kenikmatan kepada mereka berupa kekalahan dan kehinaan musuh.” (Tafsir Ali-Imran 2/313)
• Asy-Syaikh Abdurrahman as-Si’diy رحمه الله berkata, “Kewajipan bagi orang yang Allah beri kenikmatan berupa apa yang dia senangi lebih besar dari yang lain, iaitu kewajiban mentaati perintah Allah dan RasulNya.” (Tafsir as-Si’diy)
• Terkadang seseorang yang telah Allah سبحانه وتعالى berikan kepadanya kenikmatan terbesar berupa keistiqamahan dan teman yang baik serta pergaulan yang terjaga dengan baik, namun malah kemudian dia merosaknya dengan pergaulan dan pertemanan dengan orang-orang yang akan mencoreng keistiqamahan dirinya.
فاللهم سلم سلم
✍ Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله
ll مجموعة طريق السلف ll
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
http://instagram.com/majmuahthoriqussalaf
http://m.youtube.com/@MajmuahThoriqusSalaf
https://www.tiktok.com/@majmuah.thoriqussalaf






























