Jagalah Baik-Baik Ketika Mendapatkan Pasangan Yang Setia Mencintaimu
Jagalah Baik-Baik Ketika Mendapatkan Pasangan Yang Setia Mencintaimu
• Sebuah bait syair indah mengatakan:
وَإِذَا رُزِقْتَ بِمَنْ يُحِبُّكَ صَادِقًا
فَحَافِظْ عَلَيْهِ فَمِثْلُهُ لَا يُوجَدُ
“Dan apabila engkau dikurniakan seseorang yang setia mencintaimu dengan tulus, maka jagalah ia baik-baik kerana orang yang sepertinya tidak akan mudah ditemukan”
• Para ulama tafsir, ahli sejarah dan selainnya telah menceritakan bahawa Nabi Ayyub عليه السلام pada mulanya adalah seorang yang memiliki harta yang melimpah ruah. Kekayaannya mencakup berbagai macam bentuk dan jenis, mulai dari haiwan ternak, unta, lembu, kambing, para hamba sahaya, hingga kepada tanah-tanah yang luas di daerah Batsaniyyah yang merupakan bahagian dari wilayah Hauran.
Ibnu ‘Asakir رحمه الله juga meriwayatkan bahawa seluruh tanah di wilayah tersebut adalah milik Nabi Ayyub عليه السلام. Selain harta yang berlimpah, baginda juga dianugerahkan keturunan yang banyak dan keluarga yang besar. Namun kemudian seluruh kenikmatan duniawi tersebut dicabut dan diambil kembali dari diri baginda.
Tidak hanya diuji dengan hilangnya harta dan keluarga, Nabi Ayyub عليه السلام juga diuji pada tubuhnya dengan berbagai macam jenis penyakit dan bala. Tidak ada satu pun anggota badannya yang dalam keadaan sihat dan selamat, kecuali hati dan lisannya saja.
Meskipun dalam keadaan tubuh yang sangat menderita, kedua organ tersebut digunakan oleh baginda untuk senantiasa berzikir mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.
Di tengah semua ujian duniawi itu, baginda tetap menjadi hamba yang sangat sabar, senantiasa mengharap pahala di sisi Allah (muhtasib), serta terus-menerus berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, baik di waktu malam, siang, pagi, mahupun petang.
Sakit baginda berlangsung sangat lama hingga teman duduknya menjauhinya, orang yang biasa menemani merasa rimas (risih) dengannya. Baginda dikeluarkan dari kotanya dan dibuang di tempat pembuangan sampah di luar kota. Orang pun memutuskan hubungan dengan baginda, tidak ada seorang pun yang tersisa untuk mengasihinya selain isterinya. Sang isteri senantiasa menjaga hak suaminya, serta mengingat kebaikan masa lalu sang suami dan kasih sayang suaminya kepadanya. Maka isteri baginda selalu bolak-balik mendatanginya untuk mengurus keadaannya, membantunya menunaikan hajatnya, serta mengurus segala kemaslahatannya. Hingga akhirnya keadaan sang isteri melemah dan hartanya habis, sampai-sampai sang isteri harus bekerja membantu orang lain dengan upah agar dapat memberi makan Nabi Ayyub عليه السلام dan bertahan demi kelangsungan hidupnya —semoga Allah meredhainya dan membuatnya diredhai—.
Sang isteri begitu sabar mendampingi Nabi Ayyub عليه السلام atas musibah yang menimpa mereka berdua, mulai dari kehilangan harta dan anak, serta musibah khusus yang menimpa suaminya (berupa penyakit), sempitnya keadaan ekonomi, hingga keharusan bekerja untuk orang lain setelah sebelumnya ia hidup dalam kebahagiaan, gelimang nikmat, dilayani dan dihormati. Maka sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepadaNya lah kita akan kembali. (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/508)
✍ Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله
ll مجموعة طريق السلف ll
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
http://instagram.com/majmuahthoriqussalaf
http://m.youtube.com/@MajmuahThoriqusSalaf
https://www.tiktok.com/@majmuah.thoriqussalaf

























