Erti Sebuah Kesetiaan
Erti Sebuah Kesetiaan
• Muhammad bin al-Husain bin Syaddad رحمه الله berkata, “Aku melihat seorang lelaki yang memiliki seekor anjing, ia mendekatkan anjing itu kepadanya dan menutupinya dengan kain sutera yang ia miliki. Maka aku bertanya kepadanya mengenai alasan perbuatan tersebut.”
Maka dia menceritakan, “Dulu aku memiliki seorang teman karib yang selalu bersamaku. Kami keluar berpergian (jalan jauh) dan di pinggangku terdapat sebuah kantong berisi dinar emas serta aku membawa barang-barang berharga yang banyak. Lalu kami singgah di suatu tempat, tiba-tiba dia sengaja mendekatiku, lalu mengikatku dengan kuat dan melemparkanku ke dalam sebuah lembah! Dia mengambil apa yang ada padaku lalu pergi.
Sementara anjing ini tetap tinggal bersamaku, tetapi kemudian ia sempat meninggalkanku sebentar dan pergi (ke suatu tempat). Tidak lama kemudian, ia datang menemuiku dengan membawa sepotong roti, lalu meletakkannya di hadapanku dan aku memakannya.
Aku terus merangkak ke tempat yang ada airnya lalu meminum darinya. Anjing itu terus menemaniku sepanjang sisa malamku,l. Kemudian aku tertidur dan tidak melihatnya (meninggalkanku lagi). Tidak lama kemudian ia datang menemuiku lagi membawa sepotong roti, lalu aku memakannya.
Ketika hari ketiga, ia sempat menghilang lagi dariku. Maka aku berkata di dalam hati, “Ia pergi dan pasti akan datang lagi membawakan roti”. Dan benar, tiba-tiba ia datang membawakan roti lalu melemparkannya. Belum sempat aku menghabiskan makananku, tiba-tiba anak lelakiku sudah berdiri di hadapanku sambil menangis dan berkata, “Apa yang terjadi padamu dan apa kisahmu?”. Dia pun turun (ke lembah) membuka ikatan tali di tubuhku dan membawaku keluar.
Aku pun bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mengetahui tempatku dan siapa yang menunjukkanmu (jalan menuju) kepadaku?” Dia menjawab, “Anjing ini biasa mendatangi kami setiap hari, lalu kami melemparkan roti untuknya namun ia tidak memakannya. Padahal ia dulu selalu terus bersamamu, sehingga kami merasa hairan dengan kepulangannya (tanpa dirimu). Dan ketika engkau sedang tidak bersamanya, ia membawa roti itu dengan mulutnya tanpa memakannya sedikit pun lalu pergi membawa roti itu. Melihat keadaannya itu kami merasa aneh dan hairan, maka aku mengikutinya hingga aku sampai di hadapanmu”.
Inilah ceritaku bersama anjing ini.” (Ibnul Jawzi dalam al-Adzkiya’ 1/110)
• Semoga Allah سبحانه وتعالى merahmati al-Imam Ibnul Marzaban رحمه الله sampai beliau tulis kitabnya yang berjudul:
فضل الكلاب على كثير ممن لبس الثياب
“Terkadang Anjing Memiliki Keutamaan Lebih Baik / Setia Dari Banyak Manusia”
Dalam muqadimah kitab beliau itu disebutkan, “Aku telah menyebutkan -semoga Allah memuliakanmu- tentang zaman kita ini, rosaknya kesetiaan manusia, hinanya akhlak mereka serta buruknya tabiat dan sifat mereka. Dan aku sebutkan pula bahawa sejauh-jauh orang dalam melakukan perjalanan adalah orang yang perjalanannya dilakukan demi mencari seorang teman yang soleh. Dan barang siapa yang mencuba mencari seorang teman yang aman dari kejahatannya, serta berkekalan kebaikannya sehingga kamu puas dan bahagia terhadap teman tersebut, maka ia bagaikan seorang musafir di jalan yang sulit dan tidak tahu arahnya yang hanya menambah keletihan bagi dirinya sendiri dan semakin bertambah jauh dari tujuannya. Dengan itu perkaranya adalah sebagaimana yang telah aku sifatkan.”
✍ Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله
ll مجموعة طريق السلف ll
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
http://instagram.com/majmuahthoriqussalaf
http://m.youtube.com/@MajmuahThoriqusSalaf
https://www.tiktok.com/@majmuah.thoriqussalaf



